Rabu, 26 Oktober 2011

SeBungkus Nasi Pecel Godhong Jati


Mentari mulai merangkak menatap ribuan cinta di hamparan tanah tua nan hangat, Ngawi Ramah. Yaa, jalanan yang masih sepi di seputaran kota Ngawi, segelintir kendaraan lalu lalang membawa seperangkat barang yang mungkin hendak ke pasar berdagang. Segelintir yang lain ikut thawaf di Alun-alun, berputar di jogging track, dan meringis di track refleksi, yang kesemua fasilitas itu masih tahap pengerjaan dan penyempurnaan oleh Pemkab Ngawi. Ya tentu sehat memang berharga mahal.
Menyusuri jalanan yang masih sunyi beberapa titik di jalan-jalan protocol Nampak beberapa pedagang membuka lapaknya. Aneka makanan merakyat jauh dari membosankan miungkin. Nasi Pecel, hadir di paginya Ngawi yang selalu diburu masyarakat. Murah meriah dan jauh dari bahaya bahan kimia beresiko tinggi.
Kerumuhan pun tak lama berselang setelah lapak terbuka. Berburu nasi pecel tak membuat pegel, tapi mungkin kadang males untuk antri. Nasi pecel ternyata menjadi salah satu penggerak ekonomi kreatif yang begitu terasa di rakyat. Semoga, nasi pecel mampu mempertahankan kharismanya di kancah industry makanan modern.
Satu hal yang menjadi koreksi, tak banyak pedagang nasi pecel yang memperhatikan arena atau tempatnya berjualan, padahal rasa pecelnya nikmat dan pembeli selalu antri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar